Tukang Sampah Itu, Menunda Silaturahmi Dengan Anak dan Istri
Rabu, 31 Agustus 2011 - 20:04 WIB
Pria yang sudah tiga tahun menekuni profesi sebagai tukang sampah tersebut harus rela menunda silaturahmi dengan keluarga dan teman-temannya karena profesi sebagai tukang sampah menuntutnya demikian. Ia hanya memiliki waktu untuk salat Ied di masjid, setelah itu harus segera menanggalkan baju Lebarannya dan berganti dengan seragam ‘kebanggaannya’ pasukan kebersihan kota Jakarta .
Merasa sedih? “Nggak..saya biasa saja. Lebaran kan waktunya lama, nggak sehari selesai,” ucap bapak satu anak tersebut.
Tiga tahun menjadi tukang sampah, tiga tahun itu pula ia tidak mengambil cuti saat Lebaran. Ia tetap menjalankan tugasnya sebagaimana hari biasa. Hanya jamnya saja yang berubah.
Jika hari biasanya ia mulai bekerja sejak pukul 07:00 hingga 15:00 WIB, maka pada hari pertama Lebaran, ia baru mulai bekerja pukul 10:00 dan berakhir pukul 16:00 WIB.
“Praktis setelah salat Ied, saya hanya sempat makan ketupat bareng istri, habis itu langsung kerja,” tambahnya.
Warga Jembatan Lima yang lahir di Jakarta tersebut tak pernah mengeluh. Ia malah senang bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat ditengah hiruk pikuk suasana Lebaran.
Ardiansyah tidak bisa membayangkan bagaimana kota Jakarta jika saja semua tukang sampah mengambil libur saat Lebaran. Sebab saat Lebaran tiba, justeru volume sampah yang dihasilkan masyarakat termasuk rumah tangga meningkat drastic.
Bekerja pada suasana Lebaran diakui Ardiansyah membawa hikmah dan keunikan tersendiri. Setidaknya ia tidak perlu tergesa-gesa berkunjung ke kawan se profesi karena hari pertama Lebaran mereka sudah berjumpa, sudah bermaaf-maafan. “Kalau ada waktu, baru kami saling berkunjung,” katanya.
Uniknya lagi, ada beberapa teman yang sengaja membawa kue-kue Lebaran saat bekerja. Kue-kue tersebut dimakan bersama begitu jam istirahat tiba.
Ardiansyah tidak sendiri. Ada Warsito, pria asal Brebes yang menjumpai kondisi serupa setiap Lebaran tiba. Petugas kebersihan yang memiliki area kerja di beberapa ruas jalan di kawasan Kemayoran Jakpus pun harus rela menunda silaturahminya saat Lebaran tiba.
“Sama nikmatnya, silaturahmi hari pertama, kedua atau sepekan kemudian,” kata pria yang sudah menekuni profesi sebagai pasukan orange tersebut 7 tahun lalu.
Bagi Ardiansyah dan Warsito, Lebaran adalah momen yang bagus untuk anjang sana menjalin tali silaturahmi dengan keluarga, sanak saudara. Tetapi Lebaran pula menjadi momen yang bagus untuk menunjukkan komitmen serta loyalitas pada profesi dan pekerjaan. Ya, menjadi pasukan kebersihan. (inung/b)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar